ponorogo-tourism.com
Choose Language
Main Menu
Digital Counter

Art & Culture
Kongkil
‘Kongkil’ is a traditional musical art found only in Bungkal District, some 20 kilometers to the south of downtown Ponorogo. Kongkil uses bamboo tubes as the musical instruments. The shape of these musical instruments looks like ‘angklung’. A set of Kongkil has pentatonic music scales, and its traditional Javanese meter of songs are composed by local artist.

Kongkil is usually played by ten men wearing all-black Ponorogan costumes (called ‘waktung’ traditional costume), and performed during village cleansing ceremony or other festive celebration, for example wedding celebration.
Read more...
 
Keling
 Here is the information about keling
 
Gajah-Gajahan

 Kabupaten Ponorogo yang umumnya dikenal dengan seni Reog – nya sebenarnya juga memiliki potensi seni tradisional lain yang tak kalah menarik, satu diantaranya adalah gajah-gajahan.

Kesenian tradisional Gajah-gajahan pada dasarnya adalah seni jalanan (street arts) yang berbentuk arak-arakan terdiri atas sekelompok penari, pemusik dan penyanyi. Tokoh utamanya adalah patung gajah yang digotong oleh dua orang yang berada di dalam “tubuh” gajah tersebut. Di atas patung gajah tersebut, duduk anak laki-laki usia pra akil baliq yang didampingi oleh seorang pembawa payung. Sementara itu, agar si Gajah bisa  berjalan sesuai arah, dia didampingi oleh orang yang bertugas untuk menuntun Gajah tersebut. Di belakang gajah, berbaris para penari dan penyanyi yang diiringi oleh alunan musik HADROH yang instrumennya terdiri atas jedor, kendang, kenong, kentrung, dan kecer.

Read more...
 
Reyog Ponorogo

Sample Image

THE ORIGIN OF REYOG PONOROGO

      In the West, great legends begin with the words, “Once upon a time”.  In Indonesia the legend begins with music.   Reyog Ponorogo is the story of its own creation.  In it, dancers, arrayed in costumes created by local artisans who were trained in their art by their fathers and father’s fathers,...

Read more...